LIVE TV

Home / Nasional

Selasa, 6 April 2021 - 13:54 WIB

Kapolri Larang Media Tampilkan Kekerasan Aparat

JAKARTA – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melarang media untuk menayangkan tindakan kekerasan yang dilakukan anggota Polri. Perintah tersebut tertuang melalui Surat Telegram (ST).

“Pertimbangannya agar kinerja Polri di kewilayahan semakin baik,” ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono, Selasa (6/3/2021).

Surat Telegram tentang pelaksanaan peliputan yang bermuatan kekerasan dan/atau kejahatan itu bernomor ST/750/IV/HUM.3.4.5./2021 yang ditandatangani oleh Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono atas nama Kapolri pada 5 April 2021 dan ditujukan kepada para Kapolda serta Kabid Humas.

Di dalam telegram itu, terdapat beberapa poin yang harus dipatuhi para pengemban fungsi humas Polri. Salah satunya adalah media dilarang menyiarkan tindakan kepolisian yang arogan dan berbau kekerasan.

Baca Juga  Mayat Pria Ditemukan Dikubur Dalam Lantai Kontrakan di Depok

“Media dilarang menyiarkan upaya/tindakan kepolisian yang menampilkan arogansi dan kekerasan, diimbau untuk menayangkan kegiatan kepolisian yang tegas namun humanis,” demikian bunyi poin pertama ST itu.

Kemudian, humas tidak boleh menyajikan rekaman proses interogasi kepolisian dan penyidikan terhadap tersangka tindak pidana. Rekonstruksi yang dilakukan kepolisian juga tidak boleh ditayangkan secara terperinci.
Selanjutnya, reka ulang juga dilarang walaupun bersumber dari pejabat Polri. Terutama apabila reka ulang itu tentang kejahatan seksual.

“Tidak memberitakan secara terperinci reka ulang kejahatan meskipun bersumber dari pejabat kepolisian yang berwenang dan/atau fakta pengadilan. Tidak menayangkan reka ulang pemerkosaan dan/atau kejahatan seksual,” sambungnya.

Lebih lanjut, gambar wajah dan identitas korban kejahatan seksual dan keluarganya serta orang yang diduga pelaku kejahatan seksual dan keluarganya harus disamarkan. Wajah dan identitas pelaku, korban, beserta keluarga yang masih di bawah umur juga harus disamarkan.

Baca Juga  Polres Metro Jakarta Utara Gandeng 12 Komunitas Jadi Penegak Protokol Kesehatan

“Tidak menayangkan secara eksplisit dan terperinci adegan dan/atau reka ulang bunuh diri serta menyampaikan identitas pelaku,” bunyi poin lainnya.

“Tidak menayangkan adegan tawuran atau perkelahian secara detail dan berulang-ulang,” bunyi poin kesembilan.

Sementara itu, Polri juga dilarang membawa media dan melakukan siaran langsung saat proses penangkapan pelaku kejahatan. Hanya anggota Polri yang berkompeten yang boleh melakukan dokumentasi.

“Tidak menampilkan gambaran eksplisit dan terperinci tentang cara membuat dan mengaktifkan bahan peledak,” bunyi telegram itu.

Share :

Baca Juga

Nasional

Sadis! Lantaran Tagih Hutang, Nyawa Guru Ngaji di Bogor Melayang
Bareskrim Periksa Pembobol Bank BNI, Tersangka Didampingi Pengacaranya

Kriminal

Bareskrim Periksa Pembobol Bank BNI, Tersangka Didampingi Pengacaranya
Divisi Propam Polri Periksa Kombes RW Terkait Kasus Dugaan KDRT

Kriminal

Divisi Propam Polri Periksa Kombes RW Terkait Kasus Dugaan KDRT

Nasional

Hasut Anak STM Rusuh saat Demo, Tiga Admin Medsos Diringkus Polisi

Nasional

Gempa magnitudo 7,0 Guncang di Sulawesi Utara, Akibatkan Bangunan Rusak di Dua Kecamatan

Nasional

Menkes: Vaksinasi Covid-19 Untuk Semua Warga Butuh Waktu 3,5 Tahun
Polda Metro Jaya Gelar Kampanye Protokol Kesehatan Sambut Pilkada Serentak 2020

Nasional

Polda Metro Jaya Gelar Kampanye Protokol Kesehatan Sambut Pilkada Serentak 2020
Gubernur anies berencana membuka bioskop dengan protokol kesehatan yang ketat

Nasional

Gubernur Anies Berencana Membuka Bioskop Dengan Protokol Kesehatan Yang Ketat